|
|||||||
|
|
|
|||||
|
|
|||||||
|
"Eliminasi ELiminasi" karya terbaru Jones Abdullah berikutnya di blog ini GUE, MTV BANGET |
Eliminasi Eliminasi (by Jones Abdullah)
Untuk menjadi besar, dengan segala Impian yang setengah memang bukan perkara mudah. Kadang diperlukan suatu pengorbanan, penghancuran bahkan terbuang, tadinya aku pikir kamu justru bisa membuat aku besar merubah semua egoku dan semua keliaranku kadang aku justru bertanya pada angin,pada tembok segitu lemahnyakah aku, sampai berdiri di kedua kakikupun aku tak mampu justru aku besar ditengah penindasan di tengah himpitan ketidak mampuanku merangkai sendiri komunitasku yang sempit kemudian melebar, seperti protozoa yang membela semakin banyak, tak terhingga aku memang besar dalam ketidak berdayaan dalam angan yang kurangkai sendiri karena yang paling tahu sisi lemahnya aku adalah diriku sendiri Joenes, free york July 06, 2004
Wuih, panas dan gerah banget membuat Avie harus menutup kepalanya rapat rapat pake topi yang dikenakannya, dan nyaris membuka jaketnya, beberapa anak remaja lainnya malah keluar dari antrian dan segera berteduh, benar benar suatu perjuangan, tapi ngomong ngomong ini mungkin karena hadiah yang di tawarkan sungguh menggiurkan, hadiah uang sebanyak satu milyar setidaknya membuat para impian remaja akan segera melambung dan akan merubah menjadi milyarder mendadak. Avie masih cuek berdiri ditengah antrian yang begitu panjang walau kini wajahnya mulai dipenuhi keringat, sambil mengeluarkan diskmannya dari balik saku jaketnya dan saat itu mulai asik menikmati alunan lagu Tata Young, Sexy, Naughty, bitchy yang lagi ngetop seantero kota. Mendadak terdengar ribut ribut dibelakang Avie. “ Loe jangan sok kecakepan deh, hormatin dong yang lagi antri “ Sungut cewek pake tank top merah sampe pusernya nyaris kelihatan. “ Gue tuh lebih dulu hadir disini, cuma tadi tuh gue ke toilet “ Bantah yang satunya yang pake topi kupluk warna pink. “Pokoknya loe harus minggir dari depan gue! “ “ Lho kok gitu sih, “ “Minggir kata gue” Si tank top merah sampai melotot ke arah kupluk pink. “Udah jangan ribut, please gak enak kalau panitianya liat kalian ribut” Pinta Avie. Si tank top cemberut masih nggak rela tempatnya diserobot. Si kupluk Pink malah gak merasa berdosa sama sekali, malah dengan pedenya berdiri sambil matanya jelalatan ke arah panitia yang tengah mondar mandir mengawasi antrian panjang para kontestan Remaja Ozon 2004. Sekilas namun nampak jelas mata Avie melihat sosok disampingnya tiba tiba ambruk , membuat Avie kontan berusaha keluar dari antrian dan langsung menolong gadis itu disusul beberapa berkasnya melayang di tiup angin.Avie bermaksud mengejar kertas kertasnya yang melayang ke udara.Tapi kelihatannya kertas kertas itu semakin jauh membumbung jauh ke udara bahkan sebagian telah dinjak injak oleh para kontestan lainnya. Buru buru Avie segera menggotong tubuh yang terkulai lemas itu sambil memanggil beberapa orang panitia untuk menolongnya. “ Kenapa? Kecapeaan yah?” Tanya panitia. “Asmanya kambuh, saat panas panasan tadi “ Jawab Avie yang masih menemani gadis itu di sisi para panitia yang menggotongnya di atas tandu emergency. Kemudian menaikkannya keatas ambulance. Avie ikut naik ke atas ambulance meninggalkan lokasi gedung Ozon yang masih berjubel dan disesaki oleh para remaja.Tidak lama kemudian ambulance itu melaju meraung ke tengah kota menuju rumah sakit terdekat.
*** Nggak jauh dari Ozon building dari sebuah ruangan HRD mendadak pintu terbuka, kemudian seorang gadis berambut panjang keluar dengan tergesa gesa, sambil menenteng map coklat dengan mata yang mulai memerah. Dari ujung sana, tepatnya di lobby timur, cewek gendut berambut kepang dua bergegas mengejar sang gadis tadi yang nampaknya kecewa berat. “Gimana Ra, Hasil inter view loe?” tanya cewek gendut itu berusaha menjajari langkah langkah panjang Rara sambil menjilati permen loly popnya. Nggak ada jawaban dari Rara’ justru anak itu makin mempercepat langkahnya. “Aduh nyantai aja Ra’ kok buru buru gitu sih “ Keluh si gendut yang mulai kelihatan ngos ngosan menjajari langkah langkah Rara dari belakang. Rara berhenti sejenak dengan raut muka yang masih belum berubah, masih seperti tadi, air matanya justru semakin mengucur deras. Menoleh ke arah si gendut. “Gue udah capek Jes!, loe bisa bayangin nggak dua jam elo duduk di dalam” “Nggak ngapa ngapain , trus elo disuruh pulang “ Jelas Rara dengan air mata yang masih bercucuran. “Nggak profesional banget “ Rara berusaha mencari cari sesuatu dari dalam tasnya. Jessy si gendut buru buru memberikan tissue ke Rara. “Thanks !” Ucap Rara sambil mengusap kedua matanya. Setelah itu Rara kemudian melanjutkan langkahnya.Lagi lagi Jessy harus ngejar ngejar Rara sambil menenteng tasnya yang mirip buntelan. Pas di ujung Lobby saat hendak keluar Rara bertabrakan dengan seorang cowok yang baru saja akan masuk ke dalam gedung. Map Rara jatuh, isinya berserahkan di lantai Rara dan Jessy saling pandang pandangan kemudian Rara segera menarik tangan Jessy yang masih benggong melihat kejadian barusan. Cowok itu gelagapan ingin mengejar Rara, buru buru dia jongkok memungut kertas kertas yang ada di lantai dan memasukkan kembali ke dalam amplop coklat itu, kemudian berlari keluar mencari cari Rara. Namun Rara dan Jessy udah keburu berada di dalam taxi. Cowok itu berusaha mengejar taxi yang ditumpangi Rara sambil mengacung ngacungkan amplop coklat miliknya. Dari dalam taxi Rara dan Jessy kembali saling pandang pandangan. **** Beberapa kilo meter dari tempat Rara berada, di dalam sebuah studio Band, Ipank melemparkan stik drumnya ke langit langit dan stik stik itu kemudian meluncur jatuh dan langsung patah jadi empat potong saat berbenturan dengan lantai. Winky kelihatan kesal akan sikap Ipang barusan. Tanpa ngomong ngomong lagi Winky segera meraih ujung kerah kaos Ipang. “Maksud loe apa sih? Udah bosen latihan! “ Ucap winky dengan wajah memerah. “Gue cuma kesal sama Miko, belakangan ini telat mulu” Ipank menarik kerah bajunya. “Kayaknya dia udah nggak ngehargain usaha kita “ lanjut Ipank kemudian. “Ngapain mikirin Miko, tanpa dia kita juga bisa jalan. “ Ujar Winky. Dari balik pintu dari luar Studio,tanpa sepengetahuan Ipank dan Winkie, Miko berdiri meremas amplop coklat yang ada ditangannya. Miko emang sering telat latihan karena beberapa hari ini sibuk nyiapin berkas untuk ikut Audisi remaja Ozon 2004. Miko yakin kalau menang kontest nanti dia bakalan bisa punya Studio sendiri, tanpa harus ngejar ngejar Metromini lagi untuk ke Studio Band. Juga Miko punya impian lain, dia bisa membuat demo musik sendiri, punya studio rekaman sendiri, justru itu yang akan lebih menjadikan mimpi dia, Winky dan Ipang akan segera terwujud memiliki album sendiri tanpa harus mengekor dan membawakan lagu lagu milik band lain seperti yang selama ini mereka lakukan.Tapi tampaknya nggak semudah itu mewujudkan impiannya, karena ternyata kedua sahabatnya jutru nggak memberi kesempatan dikitpun untuk dirinya. Miko masih berdiri di depan studio terpaku.Perasaannya kini dihantui oleh perasaan mendua antara memilih masuk ke dalam studio atau segera ikut Audisi di Ozon. Lama Miko menimbang nimbang, kayaknya dia juga nggak tega harus bersebrangan dengan pendapat Ipank dan winkie. Bertiga mereka merangkai mimpi untuk segera meraih angan angan mereka untuk menjadi seperti band band favourit mereka. Mungkin Winkie atau Ipank benar, bahwa Miko hanya buang buang waktu ikut audisi, tapi Miko juga nggak mau melepas kesempatan yang sangat sangat jarang terjadi, apalagi kalau ternyata kesuksesan Miko dalam audisi adalah kesuksesan mereka juga. Miko masih menimbang nimbang. Kemudian akhirnya Miko benar benar memutuskan untuk segera pergi ke Ozon building untuk mengembalikan formulir Audisi yang emang batas pengembaliannya udah mepet banget.
Dalam emergency room di sebuah rumah sakit nampak Avie masih menunggu gadis yang tengah terbujur lemas di tempat tidur. Beberapa saat lamanya Avie menanti dengan cemas agar masa masa kritis gadis itu segera berakhir, dibantu dengan slang inpus, slang oksigen serta doa yang nggak henti hentinya Avie panjatkan, pikirannya tentang Kontes Ozon sudah nggak ada lagi, justru kesembuhan gadis disampingnya adalah harapan dan keinginannya kini, Yah itu mungkin sudah takdir dia harus melupakan Kontes Ozon untuk selamanya. Avie masih duduk disamping gadis itu, menanti dan membiarkan waktu terus berlalu, hingga saat gadis itu mulai menggerakkan jemarinya, Avie kontan segera meraih tangan gadis itu, membiarkan hangat tubuhnya mengalir ke sela sela jemarinya, mentransfer panas tubuhnya pada gadis itu. “Saya ada dimana?” tanya gadis itu berusaha mengingat ingat dan membuang pandangannya diantara sudut sudut ruangan. “Kamu ada dirumah sakit, tapi nggak usah kuatir, kata dokter kamu nggak papa Cuma kecapean “ Sahut Avie segera menghampiri gadis itu. “Makasih mau menolong saya,”Gadis itu berusaha untuk tersenyum.Avie membalas dengan kedipan matanya sembari tersenyum. “Kenalkan, saya Avie! “ Avie menyodorkan tangganya. “Anggie” Sahut Anggie sambil meraih tangan Avie. Anggie segera menatap jam di dinding kemudian menatap Avie dengan bola mata yang masih meredup. “Oh yah? Ini berkas kamu,” Avie segera menyodorkan amplop coklat ke sisi Anggie. “Saat kamu terjatuh tadi, aku buru buru mengambilnya” “Maaf yah Vie, gara gara saya, kamu jadi kehilangan kesempatan untuk ikut di ajang Ozon” Kata anggie pelan, sambil memeluk amplop coklatnya. “Nggak papa kok, gimana dengan berkas kamu? Mau saya bawain nggak?” Avie segera menawarkan diri.Lagi lagi Anggie menatap jam di dinding “ Masih ada waktu sejam lagi, Berkas kamu bisa dikembalikan kok” Kata Avie berusaha meyakinkan Anggie. “Lupakan aja Vie, kamu kok baik banget, mau nolongin aku trus berkas kamu sendiri dimana?” Tanya Anngie . Giliran Avie yang terdiam, gak tahu gimana menjelaskannya ke Anggie, Avie nggak mau Anggie merasa bersalah kalau tahu berkasnya tadi berhamburan, saat menolong gadis itu.Yah itu memang suatu pengorbanan yang tulus, setidaknya Avie sudah bisa melupakan mimpi yang baru saja akan dia rintis, membiarkannya menguap sama seperti berkas berkasnya yang melayang jauh, bahkan sebagian lagi koyak di injak para kontestan.
Buru buru Avie menarik Amplop coklat di tangan Anggie, kemudian berlari keluar sembari mengingatkan Anggie, “Aku nggak lama kok, tunggu yah!” Avie segera berlari kencang keluar tanpa perduli Anggie berteriak memanggil manggil Avie agar membatalkan niatnya itu, Dia terus berlari dan berlari sampai keluar pekarangan rumah sakit, Bagi Avie nggak ada salahnya dia berkorban tuk Anggie sekali lagi, yah kesempatan boleh saja pergi untuk dirinya namun bagi Anggie tidak, Avie harus menolong Anggie untuk mewujudkan mimpinya itu, karena Avie sangat sangat yakin kalau Anggie bakalan lolos seleksi, Avie masih saja terus berlari menembus panasnya sinar matahari sore diantara bisingnya kendaraan yang masih terus saja melaju, di trotoar jalanan Avie terus berlari dan berlari.
Sore baru saja bergulir, Diandra masih bimbang untuk memutuskan ikut ke Pesta Lajang yang diadakan oleh Asti sahabatnya di bogor, pasalnya besok dia harus segera kembali ke Jakarta untuk mengikuti tahap selanjutnya dari Audisi Ozon.Asti pas tahu diandra nggak jadi, buru buru menelpon sahabatnya itu “Gue bukannya gak mau As, Cuma besok tuh gue ada Audisi “ Sahut Diandra berusaha menjelaskan duduk perkaranya. “Dra jangan sok Imut deh, pokoknya elo ikut, harus ! Ntar lagi gue jemput!” Suara Asti terdengar memelas dari seberang. Diandra menggigit bibirnya,masih ragu ragu, dia nggak kuasa untuk membiarkan Asti kecewa, minggu depan Asti sudah menjadi milik orang lain, dan bersama suaminya Pramudya yang masih turunan ningrat itu harus segera terbang ke London untuk melanjutkan Study Masternya yang emang sempat terpotong. Nggak lama kemudian mobil Asti muncul di depan rumahnya, Diandra mengintip dari balik jendela sambil memegangi kepalanya yang mulai pening.Kemudian meraih Mobile Phonenya yang berdering diatas meja. “Iya gue segera turun! “Sahut Diandra buru buru.Baju bajunya yang berserahkan diatas tempat tidur dipunguti satu persatu kemudian dimasukkan kedalam Tas.Mamanya menatap Diandra dengan cemas.” Aduh gimana dong ma? Andra kan ada audisi besok” Sahut Diandra masih memegangi tasnya. “ Memangnya mesti nginap di bogor?” Tanya mamanya. “Nginap dong ma, justru pestanya itu sampai jam tiga pagi” Diandra masih berdiri di depan mamanya, Di luar Vinkan, Maya, Vivi, dan Asti udah nggak sabaran menunggu Diandra.bahkan Kelakson mobil Asti berbunyi berkali kali, menyuruh Diandra untuk segera keluar. “Honey, kalau memang itu milik kamu, mama yakin kalau Audisi besok itu mau menunggu kamu” Mamamnya buru buru mengecup kening Diandra, Diandra keluar dengan raut wajah kurang bergairah, nggak lama kemudian di atas mobil VW bitle Diadra udah larut bersama tawa canda teman temannya.
**** Ipank masih saja diam sambil memainkan stik drumnya diatas motor RX Kingnya yang diparkir di depan tukang rokok, sambil menatap Miko dengan tatapan yang nggak lagi bersahabat. “Sorry, gue emang salah, gara gara gue kalian nggak jadi latihan hari ini“ Miko duduk di bangku deket Wingky. “Loe tuh dah bikin kesalahan berkali kali tauk nggak?” Sungut Winky kesal. “Apa separah itu salah gue? “Tanya Miko hati hati. “bukan parah lagi, kita tuh dah kehilangan semangat,” Sambung Ipang dengan raut wajah yang belum berubah.Suasana kelihatan hening sejenak, nggak ada yang bersuara, hingga kemudian Winky dengan agak berat berusaha menyampaikan kabar yang emang terasa sangat berat untuk disampaikan ke Miko “Kita tuh dah rembukan bahwa elo dengan terpaksa harus kami pecat “ Belum lagi kata kata winky berakhir, Miko sudah beranjak dari duduknya. Menatapi Winky dan Ipank secara bergantian, “Gue nggak nyangka kalau secepat ini kalian berubah” “Dan gue justru lebih kecewa banget kalo sampai gue nggak diberi kesempatan untuk merubah semua kelakuan gue” Suara Miko terdengar agak parau, nyaris saja dia menumpahkan emosinya di hadapan kedua sahabatnya itu, Miko mundur dua langkah dari hadapan mereka sambil berkata. “Gue hanya ucapin sukses untuk kalian berdua, dan kalian perlu ketahui bahwa menyingkirkan gue dari group zippo bukan berarti mematikan keatifitas gue” “Gue akan tetap jalan walau tanpa harus bersama kalian lagi, ingat itu” Miko mengacungkan telunjukkan kearah Ipank dan Winky secara bergantian.Kemudian Miko segera membalikkan tubuhnya segera naik ketas Honda GL Pronya yang butut kemudian melesat pergi meninggalkan Ipank dan winky, Gl Pro itu dengan cepat melesat diantara sesaknya kendaraan yang masih tumpang tindih membiarkan kesalnya larut terbang bersama debu debu jalanan yang bertebaran saat digilas oleh roda roda GL pronya.
Jam 03.15 pagi, Diandra mengusap wajahnya, mencengkram kedua bahunya yang terasa ngilu sambil melirik ke arlojinya kemudian sekilas matanya melihat Asti duduk dihadapan jendela diantara kencangnya angin yang datang berhembus dari luar.”Asti? ngapain kamu duduk disitu, “Diandra menghampiri Asti yang masih saja duduk dengan tatapan menerawang keluar. Ada bola bola air yang menetes dari kedua balik kedua matanya yang bening. Asti langsung menabrak tubuh Diandra. Menghamburkan tangisnya di dada Diandra. “Kamu kenapa As? “tanya Diandra panik. “Gue mau bunuh diri saja Dra, Gue nggak mau hidup kayak gini “ Sahut Asti disela sela tangisnya yang panjang. Diandra segera membawa tubuh Asti kedalam, memberikannya segelas air putih kemudian merebahkan tubuhnya diatas sova. Vinkan,Maya dan Vivi kemudian keluar dari dalam kamar, menatap Diandra dengan tatapan penuh tanda tanya.Vinkan masih saja berusaha mencari cari jawaban dari sorot mata Diandra.Gak lama kemudian Diandra mengisyaratkan agar Vinkan segera mengikutinya ke toilet. “Asti kenapa? “ Tanya Vinkan setelah berada dalam toilet. “Gue justru pengen nanya ke kamu, semalam kan kamu yang terakhir bersamanya! “ Sahut Diandra kemudian. “Gue liat sendiri kalau semalam tuh Barong datang menemui Asti “ timpal Maya yang tiba tiba hadir di toilet. “Barong? ngapain juga tu anak kesini? Siapa yang ngundang dia?”Tanya Diandra mulai cemas. “Emang Barong siapa ndra? “Tanya Vinkan nggak ngerti. “Barong itu mantan Asti waktu mereka sama sama tinggal di Liverpool” Jelas Diandra yang masih mondar mandir dalam toilet. “Mereka berantem? sampe Asti nagis kayak gitu” Tanya Vinkan lagi. Mendadak Asti muncul di bopong oleh Vivi, ke tiga anak itu tiba tiba diam tak berani bersuara. Diandra langsung memegang pundak Asti, “Ngapain semalam Barong kesini? Kan udah gue bilang kalo kamu tuh jangan ketemu ama dia lagi! “ Diandra menatap tajam mata Asti, namun anak itu segera mengalihkan pandangannya,melangkah menuju cermin dan menatap wajahnya dalam dalam disana, “Tolong bilang ke gue, kalo Barong nggak ngapa ngapain elo semalam” Diandra berada dibelakang Asti masih menatap mata asti dari dalam cermin. “Gue nggak bisa ngelupain dia Ndra, “ Ujar Asti lirih. “Dan semalam itu dia…….. “ Asti kemudian menghentikan kata katanya, segera Diandra meraih pundak Asti dan membalikkan tubuhnya, membiarkan matanya beradu dengan matanya, Diadra pengen tahu sejujurnya kalau apa yang dikatakan Asti itu nggak benar. “Dan elo membiarkannya barong ngapa ngapain elo? “ “ tololnya lagi kamu justru membiarkan semuanya terjadi?” Kata Diandra bertubi tubi tanpa membiarkan Asti membela diri. Sekilas dia melihat Asti mengangguk pelan. Kemudian Asti berlalu dan berlari kepelukan Vivi, berdua mereka tangis tangisan. “Damn! “ Diandra menghantam cermin dihadapannya hingga retak, ada darah segar mengalir dari sela sela jari Diandra. “Gue udah bilang kalo pesta ini gak benar” “Gue yakin kalau elo memang sengaja bikin skenario seperti ini, karena elo emang udah punya janji ama Barong disini, trus ngajak kita- kita, biar semuanya terlibat “Sungut Diandra kesal. “Andra! “ Teriak Vivi, Maya dan Vinkan hampir bersamaan. “Gue sangat kecewa atas apa yang tlah elo lakukan ” Diandra melirik kearah Asti. “Gue pulang sekarang!” Diandra segera keluar dari toilet, segera memungut jaket di kursi, Mobile Phone di meja dan memasukkannya ke dalam tas dan menentengnya .dibelakangnya Vivi berusaha mengejar. “Gue pikir elo sahabat yang paling baik, paling benar, taunya nggak “ Asti berusaha menjajari langkah langkah Diandra yang tengah menuruni tangga. “Elo kenapa sih Ndra? sahabat elo yang paling dekat, yang nggak tahu mesti berbuat apa, justru kamu sudut kan, kamu bikin dia semakin terpojok” Vivi berusaha menatap wajah Diandra. “Dia tuh yang emang pengen semuanya jadi kacau”Diandra menepiskan tangannya. “Gue cuma kasihan ama tingkahnya, apa perbuatannya” Sahut Diandra lagi “Tapi inikan udah terjadi, mo diapain lagi” Potong Vivi cepat. “Goblok aja , udah tahu mo merit masih aja selingkuh “ Sloroh Diandra jutek. “Ndra, Loe kok gitu sih?, tega banget !” Sahut Vivi yang udah pengen nangis. “Gue nggak mau tahu! dan jangan bawa bawa nama gue lagi “ Seru Diandra kemudian melangkah keluar menembus pagi yang masih berkabut, membiarkan dinginnya kabut menembus pori pori wajahnya.Diandra masih terus melangkah meninggalkan Vivi yang masih berdiri di depan pagar memanggil manggil nama Diandra, di lantai atas Asti nggak bisa menahan tangisnya, bersama Maya dan Vinkan, bertiga mereka saling tangis tangisan.
****
Pagi baru saja berlalu, sebuah rumah kecil yang berada nggak jauh dari bumbungan sampah yang menggunung, di sebuah tempat pembuangan sampah sosok cewek bertubuh ceking masih asik tidur diatas sova butut mengenakan selimut, walau aroma diluar sangat sangat menyengat tapi cewek bertubuh ceking itu seakan nggak perduli.Kemudian beberapa bocah kecil berebutan mengintip dari balik pintu, akhirnya mereka sepakat untuk masuk berbarengan lalu segera menarik selimut Lara hingga merosot menyingkap pahanya yang dibalut celana jeans pendek yang warnanya udah belel. “Apa apa an nih? “ lara bangun kemudian melotot kearah bocah bocah kecil itu. Bocah bocah kecil itu nggak menjawab bahkan mereka hanya tersenyum senyum kecil sambil memberikan sepucuk amplop putih. Kening Lara berkerut membaca isi dari amplop putih itu.
“SELAMAT ANDA MENJADI CALON REMAJA OZON 2004, audisi dilaksanakan hari ini jam sepuluh siang “ Kening Lara makin berkerut. “ Kalian pasti ngerjain gue lagi yah ?” “hmmmm basi, Kak Lara tuh udah bosan ama kalian yang suka banget iseng” Lara meremas kertas putih itu kemudian membuangnya kedalam tong sampah.Membuat mata bocah bocah itu kontan melotot. “Suer bener, itu nggak boongan “ Seseorang dari mereka memberanikan diri. “Gimana Kak Lara mo percaya, Kak Lara tuh nggak pernah merasa ikutan, nggak pernah merasa mengisi formulirnya,” Mata Lara melirik kearah bocah bocah itu. “hmmm, kemarin aku ama bayu nyolong berkas Kak Lara di lemari” “terus Bayu memasukannya ke Ozon” Lanjut anak itu lagi. “Kami emang sepakat kalau saja Kak Lara bisa menang dalam kontes Satu milyar itu “ Kata salah seorang yang agak gedean diantara mereka. “Satu milyar?” Mata Lara melotot. “Yang benar? Jadi ini kontes benaran bukan boongan?” Lara kemudian mengacak ngacak tempat sampah disisi mejanya mencari cari bulatan kertas putih yang sudah dia remas ramas tadi. “Waduh, ini sudah jam berapa? “ Tanya Lara panik kemudian segera bercermin. “Muka gue jerawatan lagi, rambut lecek belon samphoan, jadi nggak pede nih!” “kok ngasihnya baru sekarang sih?” Lara masih panik sana sini mencari cari baju dari dalam lemari. Lara masih sibuk membongkar semua koleksi bajunya.Jam sudah menunjukkan Jam sembilan, lama Lara mondar mandir di depan cermin mencoba semua koleksi baju bajunya, sampai akhirnya Lara udah kebingungan sendiri memilih baju mana yang pantas buat Audisi nanti,karena waktu sudah mepet banget Lara hanya mengenakan kemeja putih, celana Jeans belel plus menjepit rambut cepaknya dengan jepitan rambut, nggak lupa Lara tersenyum di depan cermin, Manis juga , dan nggak malu maluin pikir Lara kemudian, yang penting penampilannya oke, dan nggak seorangpun yang akan tahu kalau Larasati gadis tomboy berambut cepak adalah seorang guru suka rela di rumah Singgah yang berada dalam kompleks para pemulung, yang saat ini memiliki anak murid lebih 60 orang yang semuanya berasal dari lingkungan sampahan dan anak anak jalanan.
To be Continue
|
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||