Novel

 
 
 

 

     
   
   
Debu'

halaman 3



malam malam seperti biasa
Kelam nggak pulang,
Debu sudah pasti tahu dimana Kelam berada,
Pela-Pela tempat favouritnya, anak itu gak pernah jera,
gak pernah mau perduli akan dirinya sendiri, siang kerja
dan semua hasil kerjanya dihabiskan untuk bergelas gelas arak.....
yang tak berkelas dan bermerek bukan
dengan sebotol
wisky, atau topi miring
atau paling nggak
Jenever yang sering digadoin dengan ikan bakar

typical anak makassar pada umumnya doyan mabuk dan perempuan...


tapi apa iya,
Debu justru bertanya pada dirinya sendiri, dia terlalu memvoniskeseluruhan anak makassar, terlalu mengambil sisi jeleknya, apa memang benar di darahnya ada sifat seperti itu?


untuk semua orang dimuka bumi ini, baik jawa,mau madura,mau batak,
mau makassar kek bukan jadi jaminan,

suku bukan suatu brand image untuk itu.....Debu tertawa sendiri.....


Dia menelusuri lagi stasiun kereta api dan duduk di diantara ibu ibu
yang masih setia menunggu dagangannya, para asongan berlalu lalang,
matanya hanya berharap ada kelebat bayang bayang
Nista disana,
yang juga menunggu sebuah kios namun
Debu nggak menemukan
lagi kios beratap biru.itu.....sama seperti pada pertemuannya pertama
setahun yang lalu......


dengan malu malu dan masih polos
Nista mempersilahkan .........
"mau kopi mas?" "dia bukan mas,panggil dia  bang.........
"
Kelam memotong kata kata Nista.Debu menyikut perut  Kelam.
"mau kopi bang?"
Nista mengulang kata katanya
"bikinin kami dua gelas kopi"

Debu masih melotot kearah kelam.
"Kasih aku kesempatan ngomong....kamu selalu saja memotong
pembicaraanku barusan"
Debu sewot setengah berbisik kearah Kelam
Nista tersenyum malu malu melihat tingkah Kelam dan Debu.


Kelam keliatan diam setelah itu,justru debu yang makin dekat
dengan
Nista, kulitnya kuning khas sunda,rambut panjang
persis
gadis shampoo kalo Debu melihat sekilas, kenapa gadis secantik dia
nggak jadi penjaga swalayan atau Sales promotion girl atau apa
yang bisa membuat dia lebih banyak dapat kesempatan,
atau
Nista memang hanya mau menjaga warung kopi
dengan menjajakan senyumannya, terlalu banyak saingan
yang
Debu harus singkirkan untuk mendapatkan dia,
pelaut,buruh, dan tukang asongan yang semuanya suka sama
Nista,


padahal pendidikan gadis itu gak rendah rendah amat,
dia lulusan Smu sekolah negri lagi di
sekitar Priok yang ibunya
juga penjaja dan membuat makanan yang di edarkan ke segenap
penjuru warung warung yang bertebaran di sekitar Stasiun Kereta..........

" kamu jangan bermimpi untuk mendapatkan dia....kamu akan kecewa!"

Kelam mengingatkan debu suatu waktu saat dia berniat mengajak Nista kepasar permai,atau paling nggak membelikannya parfum di pasar ular....

"Lam,belum tentu kita jangan putus asa dulu,belum juga dicoba..."
"kamu tahu
Nista milik siapa?" Debu menggeleng
"Dia milik
preman, milik pelaut, milik semua orang di sepanjang pela-pela"

"dan kamu harus berani memepertaruhkan resikonya, saya nggak mau
ikut campur dan jangan bawa bawa nama saya kalo saja kamu kena
di ciduk sama mereka"


"Kelam, kelam...."
Debu menggelengkan kepalanya...saya gak abis mikir...

kamu kok belum apa apa sudah berpikiran jauh.......
lagian siapa yang mau mengambil resiko seperti itu....."
"disini jakarta Bung !,
Free York, Texasnya jakarta,
bukan di
mandar sulawesi tempat kamu....."

"sudah sudah....pokoknya beri aku kesempatan..
.dua hari lagi liburan saya sudah habis......dan aku nggak mau
membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja......
orang
makassar gak pernah mau menyerah sebelum berjuang tau kan?"
Debu ngloyor pergi ditinggalkannya Kelam yang duduk di sisi jendela
masih telanjang dada dengan asap rokok yang masih mengepul.....................

 


 
 
 @joenes Abdullah Production 2003          
 Back             		       Next