Novel Debu'

 
 

Free York Malam 20:18 WIB

Entah bagaimana, setelah kilatan kilatan yang berikutnya setelah gemuruh gemuruh selanjutnya,

Debu dan Nista
larut dalam sebuah kehangatan yang tak terpikirkan hanyut dalam desahan desahan yang tak terhentikan

keduanya terasuki oleh sebuah napsu tak terkendalikan oleh raungan raungan yang melenguh tak tertahankan




Lagit kelihatan makin gelap, disusul oleh angin berhembus kencang dan kilat bersambutan dilangit

Debu memegang erat tangan Nista,gadis itu menggigil kaku


kedinginan,Debu berusaha merapatkan tubuhnya berusaha mentransfer panas tubuhnya ke Nista Hujan akhirnya mengguyur keduanya....

Sambil berlarian Debu menarik tangan Nista segera menuju gerbong kereta api yang lagi mangkal,disana keduanya duduk

merangkul dengkul sesekali mereka bertatapan.
Hujan makin deras mengguyur,menumpahkan bergalon galon air.

Langit seakan murka ..........

Bibir Nista terkatup rapat....dari sinar yang remang remang dari balik sinar kilat yang masih menyambar nyambar masih nampak jelas wajah Nista menggigil

Debu akhirnya tak tega membiarkan anak itu
mengatup bibirnya,gigi geliginya gemelutuk
terdengar kencang,Debu berusaha meraih pundaknya dengan agak ragu ragu

"Kamu pasti kedinginan?"
"baju kamu basah......kalau kita masih mencoba untuk menerobos keluar saya rasa nggak akan ada gunanya"

Debu seakan berbicara sendiri,Nista masih tertunduk asik bermain dengan gerai gerai rambutnya yang basah

Dan sebuah kilat menyambar lagi kali ini dengan begitu dasyatnya,Blitz manapun nggak akan mampu menandingi kilatan cahayanya,


Nista spontan berlari memeluk Debu, ketakutan sambil merapatkan kedua belah tanggannya menutup kuping

sebuah suara menggelegar bagai letusan sebuah Canon

dan akhirnya mereka bertatapan terdiam,kedua wajahnya hanya dibatasi oleh 10cm jaraknya.

Entah bagaimana, setelah kilatan kilatan yang berikutnya setelah gemuruh gemuruh selanjutnya,

Debu dan Nista
larut dalam sebuah kehangatan yang tak terpikirkan hanyut dalam desahan desahan yang tak terhentikan

keduanya terasuki oleh sebuah napsu tak terkendalikan oleh raungan raungan yang melenguh tak tertahankan

beberapa saat mata bening itu nyaris lengket kesebuah
mata tajam namun teduh bagaikan gelombang samudra

ada bola bola bening bergulir....diatas wajah yang keletihan disisinya Debu terkapar dengan angan angan tak beratap matanya menerawang sepertiganya tak berfokus

Debu masih mengumpulkan sisa sisa memorinya
tentang apa yang terjadi barusan,......tentang pergumulannya

tentang nafsunya yang diluapkan pada gadis yang saat itu ada didekapannya...Nista hanya bisa menangis dan
menangis, karena hanya itu yang dia bisa,...

perempuan memang hanya bisa meratap saat tahu akan nasibnya, dan setelahnya dia hanya bisa menerima pasrah

seperti seonggok bubur yang disodorkan dingin dingin tak ada sesuatu yang bisa dinikmati....hanya bisa mengisi perut juga tanpa harus kenyang, karena bubur hanyaseonggok cairan yang meleleh,lumat dan lembek

Debu duduk terpaku dihadapan Nista
diantara dua belah lututnya..dari sana ditatapinya wajah penuh duka Nista...sesenggukan
Itu telah berlalu...dan nggak akan mesti kembali utuh

semuanya memang telah terjadi
mau apa lagi.......gadisku?

@joenes abdullah production