Novel Debu'

 
 

Free York , Malam 18:00

Kelam yang masih merancu dengan sejuta kata yang tak berujung..

seperti Dirinya yang melesat berlari menuju pela-pela,sepanjang rel kereta api di kegelapan malam, menembus dingin

dengan pengharapan untuk menemukan Nista......


Debu menelusuri pela-pela,mencari cari sosok Kelam
dua hari ini dia nggak pulang, sepertinya Kelam belum bisa melupakan kejadian itu.


Sama seperti Nista, gadis itu nggak pernah lagi ada
berjualan di tenda biru, jangankan untuk hadir sebentar saja padahal sengaja Debu menunggu di sepanjang stasiun seharian
Apakah Nista mau memaafkannya.?...


Hari semakin malam,semakin kelam namun kelam nggak
juga pulang.padahal besok adalah hari terakhirnya disini di Priok.

Debu memberesi tas ranselnya,surat dari mamanya
yang baru saja tiba tadi sore masih terbungkus rapi
dalam amplop,Debu masih ragu untuk membukanya

sepertinya ada kabar yang sangat penting yang beliau
ingin sampaikan,paling nggak menyuruhnya pulang
karena Debu telah melebihi masa liburannya,
bapaknya akan sangat panik dan marah...

pun tadinya Debu nggak pernah di izinkan untuk ke jakarta karena jakarta bisa merubah pola pikir,gaya hidup dan semua perilakunya....itu menurut pemikiran bapaknya yang sempit
atau kah memang sudah sedemikian?

seperti yang dulu dialami bapaknya sendiri saat itu
ketika berbisnis kayu ke priok?,

Debu akhirnya sama sekali tidak membuka amplop
dari mamanya..

mamanya memang gampang terserang panik,
terhadap sesuatu apapun yang bakalan terjadi pada
anak bungsunya-debu,

mamanya seakan tak pernah luput
dan lepas dari pengamatannya yang tajam
dan masih menganggap debu tak lebih dari anak kecil
yang mesti selalu dipantau,diawasi perkembangannya

dan dari mamanya pula debu harus meminta restu
saat harus memutuskan sesuatu, sepertinya debu
benar benar sudah tak bisa lagi menentukan nasibnya sendiri dan memilih mana yang benar,mana yang salah
mana yang putih,mana yang hitam......

Sesaat kemudian Kelam muncul
kali ini masih seperti yang sudah sudah
dengan mata merah,jalan sempoyongan
bau aroma arak yang menyengat...kalau bukan sahabatnya mungkin Debu sudah menghajarnya

layaknya seperti bapaknya kala debu pulang
menonton video malam malam,
di sergap dan diikat seperti seorang buronan
yang tertangkap basah.....dipukul di gampar

Dimana kasih sayang seorang bapak?
menghajar anak belasan tahun dengan seenaknya

mempertontonkan keperkasaanya dihadapan anak yang tak berdaya sedikitpun,menjadi jagoan didepan orang kalah...suatu tindakan anarkisme yang kekanak kanakan


hanya karena mencoba menikmati aroma lain di luar rumah nggak seharusnya debu dihukum,


suatu penjara yang dua minggu harus dijalani
dengan buku dan buku.....itu bukan jalan untuk
menciptakan seorang professor,ahli atau seorang pemikir

itu tak lain adalah perampasan hak,mengkerdilkan kebebasan karena kebebasan memang milik semua orang,
seorang anak kecil sekalipun

seorang anak seharusnya dibebaskan untuk memilih
mana yang dia sukai atau mana yang dia nggak
sukai

karena dari situlah akan tumbuh suatu jiwa jiwa
yang nggak kerdil,yang berkembang dengan ruang lingkup tak terhingga,tanpa batas ruang dan waktu kebebasan pada dunia nya sendiri,
bukan dunia boneka yang dibentuk bentuk
dan dipolah bulat layaknya porselin, yang rapuh dan gampang pecah berhamburan...karena akhirnya akan lahir jiwa jiwa kerdil tak bernyali..jiwa penakut..........

beberapa saat mereka terdiam,
hanya sesekali Kelam mengawasi gerak gerik Debu


"kamu mau kemana?"
"masih mencari mimpimu yang pergi ?"


"mimpi itu telah hilang....percuma kamu cari!"
"saya hanya inging mengucapkan selamat pada kamu"

Kelam terhuyung huyung meyodorkan tangannya

"kamu seutuhnya telah menjadi sosok yang menyebalkan aku mulai muak sama kamu"

"selamat ! selamat atas ketololan kamu,selamat atas kedunguanmu dan selamat atas kegoblokanmu!

kamu akhirnya harus kehilangan.bahkan ingat kamu akan terus kehilangan

dan harus kehilangan lagi..sampai selamanya .bodoh terlalu bodoh!!!!"

Kelam merancu seorang diri,debu tak mengubris
namun setidaknya kupingnya sudah memerah
darahnya sudah menapaki ubun ubunnya

tapi debu masih punya kesabaran,
api tak seharusnya dilawan dengan api
neraka tak perlu disiram dengan air

"kenapa kamu diam?....apa karena kamu merasa menang?"

"percuma merasa menjadi jagoan? seorang pemerkosa nggak pantas disebut jagoan"

Debu berdiri dengan emosi yang meluap

"cukup ...kamu perlu tahu...dan harus tahu bahwa.."

"aku bukan pemerkosa..." Debu mendadak memotong pembicaraan Kelam

"aku telah berusaha mencari dia, berusaha untuk mempertanggung jawabkan semuanya"

"aku nggak sepicik yang kamu bayangkan"

"saya ingin membawa dia pulang menjadikannya wanita yang terhormat,menjadikannya ibu dari sekian anak anaku nanti"


"terlambat......mana ada yang bisa kamu selamatkan?"

"karena baru saja kamu memulai suatu kehancuran pada dirinya"

Telunjuk Kelam mendarat di ujung hidung Debu

"nggak ada kata terlambat kalau saja kita mau untuk memulai suatu kebaikan"

Kelam terbahak bahak
"Dia milik semua orang...dan kamu baru saja melepaskan dia dari kerangkeng emas dan membiarkan dia terbang liar..itu kesalahan kamu!!!"

Debu melotot "maksud kamu........"

"Nista ada di pela pela? di sepanjang warung remang remang?" Kelam berujar seenaknya

buru buru Debu meraih jaketnya,dan memasang sepatunya tanpa memperdulikan Kelam yang tertawa mengejek

Debu kemudian berlari melesat keluar beberapa saat dia hilang di ujung malam

meninggalkan Kelam yang masih merancu dengan sejuta kata yang tak berujung...seperti Dirinya yang dipacu dengan kegelisahan melesat berlari menuju pela-pela,sepanjang rel kereta api di kegelapan malam, menembus dingin
dengan pengharapan untuk segera menemukan Nista.........


@joenes abdullah production

Back

to

Pages

1

2

3

4

5