![]() |
Novel Debu' |
![]() |
||||||||||||
![]() |
Kelam yang masih merancu dengan sejuta kata yang tak berujung.. seperti
Dirinya yang melesat berlari menuju pela-pela,sepanjang
rel kereta api di kegelapan malam, menembus dingin dengan pengharapan untuk menemukan Nista......
Debu
menelusuri pela-pela,mencari cari sosok Kelam
Debu
memberesi tas ranselnya,surat dari mamanya sepertinya
ada kabar yang sangat penting yang beliau pun
tadinya Debu nggak pernah di izinkan untuk ke jakarta
karena jakarta bisa merubah pola pikir,gaya hidup dan
semua perilakunya....itu menurut pemikiran bapaknya yang
sempit seperti
yang dulu dialami bapaknya sendiri saat itu mamanya
memang gampang terserang panik, mamanya
seakan tak pernah luput dan
dari mamanya pula debu harus meminta restu Sesaat
kemudian Kelam muncul layaknya
seperti bapaknya kala debu pulang Dimana
kasih sayang seorang bapak? mempertontonkan keperkasaanya dihadapan anak yang tak berdaya sedikitpun,menjadi jagoan didepan orang kalah...suatu tindakan anarkisme yang kekanak kanakan
itu
tak lain adalah perampasan hak,mengkerdilkan kebebasan
karena kebebasan memang milik semua orang, seorang
anak seharusnya dibebaskan untuk memilih karena
dari situlah akan tumbuh suatu jiwa jiwa beberapa
saat mereka terdiam,
"selamat
! selamat atas ketololan kamu,selamat atas kedunguanmu
dan selamat atas kegoblokanmu! kamu
akhirnya harus kehilangan.bahkan ingat kamu akan terus
kehilangan dan
harus kehilangan lagi..sampai selamanya .bodoh terlalu
bodoh!!!!" Kelam
merancu seorang diri,debu tak mengubris tapi
debu masih punya kesabaran, "kenapa
kamu diam?....apa karena kamu merasa menang?" "percuma
merasa menjadi jagoan? seorang pemerkosa nggak pantas
disebut jagoan" "cukup ...kamu perlu tahu...dan harus tahu bahwa.." "aku
bukan pemerkosa..." Debu mendadak memotong
pembicaraan Kelam "aku
nggak sepicik yang kamu bayangkan" "saya
ingin membawa dia pulang menjadikannya wanita yang
terhormat,menjadikannya ibu dari sekian anak anaku
nanti" "karena
baru saja kamu memulai suatu kehancuran pada
dirinya" Telunjuk
Kelam mendarat di ujung hidung Debu "nggak
ada kata terlambat kalau saja kita mau untuk memulai
suatu kebaikan" Kelam
terbahak bahak Debu
melotot "maksud kamu........" "Nista
ada di pela pela? di sepanjang warung remang
remang?" Kelam berujar seenaknya buru
buru Debu meraih jaketnya,dan memasang sepatunya tanpa
memperdulikan Kelam yang tertawa mengejek Debu
kemudian berlari melesat keluar beberapa saat dia hilang
di ujung malam meninggalkan
Kelam yang masih merancu dengan sejuta kata yang tak
berujung...seperti Dirinya yang dipacu dengan kegelisahan
melesat berlari menuju pela-pela,sepanjang rel kereta api
di kegelapan malam, menembus dingin @joenes abdullah production
|